Main Article Content

Abstract





Usaha-usaha untuk mencapai setara selalu dilakukan perempuan baik dalam lingkungannya, maupun diluar lingkungannya. Usaha-usaha itu tidak terkecuali hadir dalam bentuk karya sastra, khususnya drama. Sebuah pandangan dan gambaran yang melekat dalam masyarakat tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperilaku, berpakaian, dan berperan dalam kehidupan sehari-hari, telah membatasi perempuan untuk memiliki hak yang sama dengan lelaki atau biasa dikenal dengan istilah stereotip gender. Stereotip gender telah membatasi ruang gerak perempuan untuk melakukan hal yang sama dengan lelaki. Pada naskah drama “Malin Deman” karya Wisran Hadi, semua tokoh perempuan menggambarkan penentangan terhadap  setiap stereotip gender yang berlaku di masyarakat. Bahkan tidak hanya tokoh perempuan, tokoh Malin Deman juga mencoba melepaskan stereotip gender yang dimilikinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan menjelaskan usaha-usaha setiap tokoh dalam menantang stereotip gender yang ada, agar mencapai sebuah kesetaraan gender. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif. Langkah analisis data yang dilaksanakan adalah studi pustaka berupa membaca, dan menganalisis naskah drama Malin Deman. Hasil dari penelitian ini adalah  terciptanya dekonstruksi gender akibat pelepasan peran setiap tokoh perempuan dari stereotip gender yang melekat kuat dalam pandangan masyarakat.  Setiap tokoh mencoba mematahkan stereotip gender dengan harapan dapat mencapai kesetaraan gender, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara gender yang satu dengan yang lain. Tetapi, lebih banyak dampak negatif dari dekonstruksi yang tercipta. Bahkan, Wisran Hadi tidak bisa keluar dari stereotip gender yang dimilikinya.





Keywords

Dekonstruksi Stereotip Gender Drama Malin Deman Kesetaraan Gender

Article Details

Author Biography

Anggi Oktavia , a:1:{s:5:"en_US";s:8:"Menulis ";}

  •