Main Article Content

Abstract

Tradisi lisan melahirkan sastra lisan atau folklore yang berkembang dan dipercaya masyarakat secara turun temurun di Indonesia. Setiap daerah di Indonesia kaya akan sastra lisan yang memiliki daya magis sebagai pedoman, kepercayaan, panutan, bahkan ideologi tertentu yang erat kaitannya dengan budaya dan agama. Di Bali, mengenal tutur leluhur Brahmana Keling yang menceritakan latar belakang tari topeng sidakarya dipentaskan di setiap upacara dewa yadnya sebagai sebuah bagian penting dalam sahnya sebuah upakara keagamaan Hindu. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam tutur leluhur Brahmana Keling. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu tutur nilai karakter yang terkandung dari narasi Brahmana Keling yaitu tidak boleh menghina, menghakimi, dan memberi penilaian seseorang berdasarkan caranya berpenampilan. Nilai manusia tidak ditentukan berdasarkan apa yang dipakai atau dikenakannya. Nilai pendidikan yang lain yang berhubungan dengan nilai karakter yaitu pentingnya menjaga lisan, entah siapapun dia, apalagi seorang pemimpin, seseorang yang dituakan, dihormati, diharapkan menjaga lisan dan tutur kata agar tidak melukai perasaan orang lain yang dapat mengakibatkan benaca dan malapetaka. Nilai kesederhanaan muncul pada tokoh Brahmana Keling. Juga terdapat nilai pendidikan yaitu pendidikan toleransi, perlakukan orang lain sebagaimana ingin diperlakukan. Jika menabur hal-hal baik, perkataan dan pikiran baik, maka hal baik akan kembali kepada orang tersebut.


 


Kata Kunci: Brahmana Keling, folklore, sastra lisan, pendidikan karakter

Keywords

Brahmana Keling folklore oral literature character education

Article Details