Main Article Content
Abstract
Kajian ini menjelaskan eksistensi sastra lisan Rendih dalam masyarakat hulu di Kerinci. Sastra lisan ini memiliki nilai-nilai budaya, baik yang terkandung di dalam teks, maupun konteksnya. Maka nilai-nilai sastra lisan ini perlu diungkap kepermukaan. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dan teori semiotika. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak dan teknik wawancara. Data merupakan baris, larik, atau bait dari salah satu judul Rendih di kecamatan Gunung Kerinci kabupaten Kerinci. Sumber data diambil dari salah satu Perendih atau orang yang melantunkan Rendih di kecamatan Gunung Kerinci. Dari kajian ini ditemukan sastra lisan Rendih memiliki struktur yang terdiri dari 8 bait. Dengan pada satu bait Rendih tersebut, terdiri dari 5 baris. Bait pertama adalah sampiran. Bait kedua adalah isi. Permainan rima terletak pada rima akhir. Dengan persajakan a-a-b-c-b dan a-a-b-c-b. Temanya adalah kisah cinta yang tak sampai. Dengan suasana kesedihan. Sudut pandang yang digunakan adalah kata ganti orang pertama. Sedangkan gaya bahasa yang digunakankan adalah gaya bahasa repetisi. Adapun fungsi bagi masyarakat Kerinci adalah sebagai hiburan dan cara menyalurkan isi hati atau keresahan hati. Kemudian dari segi kultural, Rendih berfungsi sebagai penguat identitas masyarakat Kerinci. Karena pada zaman dahulu, Rendih dilatunkan sebagai hiburan di kala malam hari atau saat istirahat bekerja di sawah. Sedangkan makna dari teks Rendih Pulau Pandan tersebut yaitu tentang rasa sedih, karena cinta yang tidak sampai.
